Lompat ke konten

7 Ciri Rumah Tangga Yang Tidak Bisa Dipertahankan

/ Diverifikasi oleh: Tim Better Parent

Ciri Rumah Tangga yang Tidak Bisa Dipertahankan

Setiap orang yang memutuskan untuk menikah, artinya sudah siap terikat dengan komitmen seumur hidup dengan pasangannya. Menikah tidak melulu tentang berhubungan suami istri, punya anak, lalu menikahkan anak. Akan tetapi lebih dari itu, banyak sekali hal untuk diperjuangkan bersama demi dapat bertahan sekaligus berusaha membentuk keluarga harmonis.

Cobaan dalam membina rumah tangga tidak hanya datang sekali atau dua kali saja. Adanya cobaan tersebut justru bertujuan untuk memperkuat ikatan pernikahan dan membuat rumah tangga menjadi semakin mampu bertahan.

Pasang surut dalam rumah tangga adalah hal wajar atau biasa terjadi selama menjalani kehidupan pernikahan. Tak jarang pula, adanya cobaan berat dalam rumah tangga tersebut sangat menguji mental dan kesabaran.

Selalu berusaha mempertahankan rumah tangga supaya tetap utuh dan harmonis bukan merupakan perkara mudah. Beberapa faktor pemicu keretakan hubungan pada suami dan istri membuat rumah tangga tersebut tidak bisa dipertahankan lagi.

Maka dari itu, penting untuk mengetahui ciri rumah tangga yang tidak bisa dipertahankan lagi sebagai berikut ini.

1. Adanya Dominasi Satu Pihak dalam Hubungan

Hubungan rumah tangga yang sehat adalah saling memberi dan menerima dengan porsi sama, atau tidak berat sebelah apalagi merasa dikendalikan oleh pasangan. Jika pasangan terlalu mendominasi dalam hubungan, justru membuat tidak bahagia serta cenderung memunculkan banyak konflik dalam kehidupan pernikahan kedepannya.

Tanda pasangan terlalu mendominasi pada hubungan yaitu adanya sikap terlalu membatasi dan manipulasi, sehingga membuat Anda tidak dapat melakukan apapun sesuai keinginan karena terlalu banyak diatur olehnya. Hubungan rumah tangga seperti ini jelas tidak sehat, bahkan tak jarang tanpa disadari tidak membuat Anda pun tak merasa bahagia dengan pernikahan ini.

Selain itu, terlalu banyak dikendalikan oleh pasangan membuat diri sendiri menjadi tidak berkembang karena cenderung harus menuruti apa yang ia katakan. Padahal, perlu adanya keseimbangan pada suami dan istri supaya dapat membangun rumah tangga dengan baik.

Pasangan apabila terlalu mendominasi dalam hubungan juga justru menimbulkan perasaan tidak nyaman serta seperti tak dapat menghargai Anda. Sehingga, kehidupan pernikahan pun terasa tak nyaman dan seperti tak dihargai sama sekali. Akibatnya, Anda pun lebih susah mengungkapkan isi hati karena takut berada dalam posisi selalu salah, atau bahkan sering bersikap dingin demi menghindari konflik.

Dominasi dalam hubungan pernikahan seringkali menimbulkan konflik batin pada salah satu pihak. Selain merasa tak nyaman terjebak dalam situasi tersebut, seseorang akan mudah stres dan tertekan karena takut mengungkapkan isi hatinya.

Maka dari itu, apabila masih dirasa mampu mempertahankannya sebaiknya suami maupun istri membuat suatu kesepakatan yang seimbang dan tidak memberatkan salah satu pihak, serta wajib memperbaiki komunikasi satu sama lain. Sebab, apabila sudah terlanjur terlarut dalam situasi tersebut, rumah tangga tidak bisa dipertahankan lagi.

2. Terlalu Banyak Adu Argumen

Kehidupan setelah menikah, tidak selalu dilalui dengan sesuatu yang manis dan romantis. Ada kalanya, suami dan istri mengalami beberapa konflik maupun kesalahpahaman selama membina rumah tangga, saling adu argumen misalnya.

Adu argumen merupakan hal biasa dan pasti terjadi pada suami dan istri. Namun, adu argumen terlalu sering terjadi, bahkan sampai tak ada yang mau mengalah tentu saja hal ini sangat buruk bagi kelangsungan hubungan suami istri. Akibatnya, suami dan istri menjadi tak akur, banyak berselisih paham, bahkan seringkali terucap kata pisah atau menuntut cerai.

Seringnya beradu argumen dengan pasangan bisa jadi diawali dari perkara sepele, tetapi kemudian berkelanjutan dan ditambah dengan sifat pasangan suka mengungkit kesalahan di masa lalu. Hal ini sangat buruk bagi kelangsungan hidup suami istri, sehingga banyak pasangan  memilih untuk tak lagi mempertahankan pernikahannya karena lelah terus-terusan beradu argumen.

Hal ini juga seringkali dialami oleh suami dan istri tak sefrekuensi. Sehingga, mereka banyak sekali ketidakcocokan membuatnya saling berdebat meskipun hanya perkara sepele. 

Menikah bukan hanya tentang menyatukan dua hati, tetapi juga dua pikiran. Saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing adalah hal wajib bagi setiap pasangan. Maka dari itu, suami maupun istri harus memiliki kesamaan visi, misi, dan tujuan supaya pernikahannya dapat bertahan lama.

Perdebatan yang terjadi antara suami dan istri memang hal wajar, tetapi menyelesaikannya tanpa perlu mengungkitnya kembali di kemudian hari merupakan hal paling penting. Tetapi, apabila hal seperti ini tak dapat diatasi lagi atau seringkali terjadi tanpa ada pihak yang mau mengalah sama sekali, rumah tangga tidak bisa dipertahankan lagi.

3. Adanya Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga

Keluarga harmonis adalah impian bagi setiap orang. Namun, tidak semua kondisi keluarga sama, ada yang bahagia tetapi ada juga yang tidak bahagia karena sebab tertentu. Salah satunya akibat adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga.

Definisi dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah suatu tindakan kekerasan (terutama pada perempuan), sehingga mengakibatkan kesengsaraan, penderitaan secara fisik maupun psikologis. Perempuan seringkali menjadi korban dari KDRT, sebab laki-laki merasa bahwa dirinya penguasa dan pemimpin dalam sebuah keluarga, sehingga bisa bersikap seenaknya. Perilaku seperti ini tentu tak dapat dibiarkan begitu saja.

Perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga cenderung mengalami permasalahan psikologis, seperti anxiety disorder, depresi, maupun ketidakstabilan mental lainnya yang dapat mengganggu kelangsungan hidupnya sehari-hari. KDRT juga berpengaruh pada anak karena menyebabkan dirinya juga terkena dampak psikologis akibat tindak kekerasan yang sering dilakukan oleh orang tuanya.

Bagaimanapun juga, adanya tindakan KDRT ini merupakan perkara yang harus ditindaklanjuti karena menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi korbannya. Suami yang melakukan KDRT, sama saja dengan lari dari tanggung jawabnya, yaitu memberikan cinta dan kasih sayang kepada istri serta anaknya sehingga rumah tangga tidak bisa dipertahankan.

4. Pasangan Terlibat Perselingkuhan

Perselingkuhan merupakan momok paling menakutkan pada pernikahan, hal ini juga termasuk ujian terberat dalam rumah tangga. Melihat pasangan menyukai orang lain atau berhubungan secara intim dengan lawan jenis lain sangat menyakitkan, apalagi sampai tak lagi menghargai pasangan sahnya.

Suami atau istri yang terlibat perselingkuhan, sama saja dengan mengingkari janji suci yang diucapkannya ketika akad nikah. Perselingkuhan membuat ikatan pernikahan menjadi retak, sehingga keutuhan rumah tangga akan sulit untuk dipertahankan.

Perselingkuhan dapat diawali dari hal kecil, seperti curhat kepada lawan jenis, kemudian secara intens melakukan pertemuan hingga menjadi nyaman satu sama lain. Akibatnya, perasaan maupun keberadaan suami/istri bukan lagi menjadi prioritas dan menganggap bahwa selingkuhan adalah seseorang yang lebih mampu membuat nyaman.

Beberapa faktor yang menyebabkan suami atau istri selingkuh, bisa jadi karena adanya kesalahan dari suami/istri itu sendiri, bisa juga karena memang tidak lagi saling mencintai. Apapun alasannya, perselingkuhan bukanlah tindakan yang dibenarkan.

Pada beberapa kasus, perselingkuhan oleh pasangan masih dapat dimaafkan. Namun, sebagian kasus lainnya tak dapat dimaafkan, sehingga keutuhan pernikahan tersebut tidak bisa dipertahankan. Maka, bercerai adalah jalan terbaik bagi suami dan istri.

5. Sering Melontarkan Ucapan Negatif atau Kata-Kata Menyakitkan

Perdebatan di kehidupan pernikahan merupakan hal wajar karena pasti terjadi antara suami dan istri. Namun, apabila setiap pembicaraan berujung konflik sampai melontarkan ucapan negatif atau kata-kata menyakitkan, hal ini bukanlah suatu pertanda baik.

Sama halnya dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), selalu melontarkan ucapan negatif atau kata-kata menyakitkan tidak baik bagi hubungan suami dan istri. Hal ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan satu sama lain, menimbulkan perasaan ilfeel kepada pasangan, serta menghilangkan perasaan cinta dalam keluarga.

Sering memberikan ucapan negatif juga tidak dibenarkan meskipun pasangan melakukan kesalahan. Sebab, hal ini bukannya memberikan penyelesaian suatu masalah, tetapi justru membuatnya semakin runyam, memicu konflik, serta menimbulkan kebencian. Tak hanya itu, menyakitinya dengan kata-kata yang menyakitkan sama saja dengan tidak menghargainya.

Pasangan yang ketika terlibat konflik atau perdebatan selalu mengucapkan kata kasar, hubungan ini sudah terlanjur toxic terutama jika dilakukan terus-menerus, maka rumah tangga tidak bisa dipertahankan. Sebab, sikap tersebut tak akan baik bagi masing-masing pihak.

6. Tidak Adanya Kemajuan dalam Hubungan

Kemajuan pada hubungan merupakan faktor penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Saling bertumbuh bersama dan memperbaiki kesalahan, akan membuat ikatan pernikahan menjadi awet hingga usia senja.

Akan tetapi, tak semua pasangan mampu bertumbuh bersama dalam pernikahannya. Apabila semakin lama Anda menjadi terseret ke arah negatif, sudah seharusnya hubungan tersebut diakhiri. Terutama apabila pasangan tak ingin berusaha memperbaiki diri.

Hubungan antara suami dan istri yang baik adalah saling bertumbuh, sehingga ada kemajuan dalam hubungan. Apabila pasangan Anda kerap kali melakukan kesalahan yang sama terus-menerus apalagi bukan perkara sepele, sering berbohong, atau terlibat perselingkuhan berkali-kali sudah jelas bahwa hal ini tak baik bagi hubungan pernikahan. Maka dari itu, tak mempertahankannya demi kebaikan masing-masing adalah solusi terbaik.

7. Tidak Lagi Melakukan Kontak Fisik apalagi Meluangkan Waktu Bersama

Kontak fisik tidak melulu soal hubungan seksual. Kontak fisik perlu dilakukan oleh suami istri supaya hubungan semakin awet. Maka dari itu, meluangkan waktu bersama juga diperlukan untuk memaksimalkan waktu berdua demi menjaga keharmonisan pernikahan.

Akan tetapi, suami dan istri yang sudah tak lagi melakukan kontak fisik apalagi meluangkan waktu bersama, tak jarang masing-masing merasa jenuh dan hilang rasa cinta. Ditambah lagi dengan perasaan tak nyaman jika berdekatan dengan pasangan, merasa bosan, serta menganggapnya sebagai orang lain juga merupakan ciri rumah tangga yang tidak bisa dipertahankan.

Banyak pasangan mempertahankan rumah tangga karena terpaksa, membuat keluarga tersebut cenderung terlihat tak hidup. Terus mempertahankan rumah tangga dalam kondisi tersebut secara terus-menerus, tak akan membuat bahagia begitu saja. Sehingga, hubungan tersebut sudah sebaiknya diiakhiri.

Itulah ciri rumah tangga yang tidak bisa dipertahankan. Bagaimanapun juga, saling berusaha memperbaiki dan bertumbuh bersama dalam pernikahan sangat penting, supaya hubungan dapat tetap awet. Namun, apabila memang sudah tak lagi ada yang bisa dipertahankan, mengakhirinya merupakan solusi terbaik bagi masing-masing pihak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.