Lompat ke konten

5 Ujian Terberat Dalam Rumah Tangga

/ Diverifikasi oleh: Tim Better Parent

Ujian Terberat dalam Rumah Tangga

Membangun hubungan rumah tangga yang harmonis bukanlah perkara mudah. Pasti ada saja pertengkaran yang terjadi, di mana hal ini juga merupakan bagian dari ujian dalam rumah tangga.

Ujian dalam rumah tangga jangan selalu dimaknai secara negatif. Adanya ujian tersebut justru membuat ikatan pernikahan yang ada menjadi lebih kuat dan mampu membantu untuk saling memahami. Terutama, jika Anda dan pasangan sudah bisa melewatinya beratnya ujian tersebut bersama saat 5 tahun pertama usia pernikahan, biasanya hubungan rumah tangga akan cenderung awet.

Pada 5 tahun pertama usia pernikahan, tak jarang banyak masalah datang silih berganti. Mulai dari kurang bisa membiasakan diri dengan pasangan, masalah perekonomian atau finansial keluarga, sering terlibat konflik dengan mertua, kehadiran seorang anak, ujian kesetiaan hubungan, perselingkuhan, dan lain-lain. Ujian dalam kehidupan pernikahan tersebut pun tak jarang terdengar ucapan talak atau cerai dari mulut sebagian pasangan suami dan istri karena memang hal ini bukanlah permasalahan yang bisa dihadapi seorang diri, tetapi sudah seharus dihadapi bersama untuk mempertahankan sebuah keluarga.

Maka dari itu, sudah seharusnya kita perlu mengetahui apa saja ujian terberat dalam rumah tangga yang ketika sudah bisa melaluinya, dapat membuat hubungan menjadi lebih kuat dan harmonis:

1. Permasalahan pada Finansial atau Perekonomian Keluarga

Ujian terberat dalam rumah tangga yang pertama adalah permasalahan pada finansial atau perekonomian keluarga. Permasalahan ekonomi disebut sebagai ujian terberat karena tak jarang merupakan faktor utama pemicu perceraian.

Permasalahan finansial atau perekonomian keluarga bukanlah suatu hal sepele. Apabila salah perhitungan sedikit saja, dapat menimbulkan konflik antara suami dan istri, yang akhirnya tak jarang pula sampai terucap perkataan talak.

Masalah dalam hal perekonomian keluarga ini misalnya seperti sifat terlalu boros atau pelit dari pasangan, tidak jujur dalam masalah keuangan, kebiasaan berhutang, ataupun perkara suami tidak memberikan nafkah kepada istrinya. Tak hanya itu, kesulitan ekonomi keluarga juga merupakan hal sulit untuk dihadapi karena mau tidak mau harus mampu mengatur keuangan rumah tangga supaya dapat cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari daripada mengedepankan keinginan dan gengsi.

Pengelolaan finansial memiliki perbedaan ketika masih lajang dan saat sudah menikah, sehingga tentu cara pengaturan uangnya pun akan berbeda karena harus bisa menyatukan pikiran supaya seimbang dan tidak menimbulkan perdebatan. Ketika masih lajang, keuangan adalah sesuatu yang harus bisa diatur sendiri. Sedangkan ketika sudah berumah tangga, keuangan merupakan tanggung jawab bersama yang harus bisa dikelola bersama. 

Mengkomunikasikan perihal keuangan secara terbuka sangat penting bagi pasangan yang sudah menikah guna menjaga keharmonisan rumah tangga dan meminimalisir perdebatan. Baik itu kondisi keuangan sedang stabil atau sedang susah, tetap harus dikomunikasikan bersama. Hal ini penting supaya pemasukan dan pengeluaran dana dalam keluarga tidak terganggu dan tetap terkontrol.

2. Kebiasaan dan Perubahan Sikap Pasangan yang Harus Saling Dipahami

Ketika sudah memutuskan untuk menikah, pasangan pria dan wanita pasti memiliki sifat yang berbeda. Adanya perbedaan tersebut harus bisa saling mengerti satu sama lain agar meminimalisir kesalahpahaman yang terjadi dalam kehidupan pernikahan.

Perbedaan sifat masing-masing pasangan seringkali baru terlihat setelah menikah. Sehingga, tak jarang hal ini sering menimbulkan selisih paham antar pasangan karena merasa seolah tak sejalan kemudian timbul perasaan tidak nyaman dalam menjalin hubungan rumah tangga.

Sebagai akibat tak mampu memahami kebiasaan pasangan, tak jarang memunculkan niat untuk berpisah. Padahal sebenarnya, ujian terberat dalam rumah tangga ini dapat diatasi sedini mungkin dengan cara selalu berusaha memahami kebiasaan dan perubahan sikap pada pasangan.

Ketika sudah menikah, banyak kebiasaan pasangan yang sebelumnya tidak kita ketahui justru baru terlihat. Sebab, saat sudah memutuskan untuk hidup bersama dan mengarungi bahtera rumah tangga, tidak menunjukkan sifat asli tidak akan ada gunanya karena cepat atau lambat masing-masing pasti akan saling tahu.

Beradaptasi dengan kebiasaan dan perubahan sikap pasangan bukanlah suatu hal yang instan, tetapi butuh proses untuk menghadapinya. Bahkan, cara setiap orang dalam menghadapi konflik, melakukan kebiasaan sehari-hari, maupun hal sepele seperti menanggapi orang lain pasti berbeda-beda. Sehingga, itulah yang membuat setiap mereka yang sudah menikah harus mampu melakukan adaptasi dengan pasangannya secara perlahan agar bisa saling mengerti satu sama lainnya.

Mulailah terbuka dalam menerima perbedaan, baik itu kekurangan maupun kelebihannya. Tak hanya itu, mampu menerima perbedaan merupakan kunci langgengnya hubungan karena termasuk ujian terberat dalam rumah tangga, di mana jika mampu melaluinya, mampu mempererat ikatan pernikahan sehingga membentuk keluarga harmonis.

3. Adanya Konflik dengan Mertua

Pernikahan bukan soal menyatukan dua hati saja, tetapi juga dua keluarga. Selama menjalani kehidupan pernikahan, tidak akan lepas interaksi dengan keluarga besar dan besan. Sehingga tak jarang, besan atau mertua juga merupakan ujian terberat dalam rumah tangga yang harus dihadapi.

Sebagian orang, terlihat tidak akur dengan mertuanya. Akan tetapi, sebagiannya lagi terlihat akur atau bahkan biasa saja dengan mertuanya. Pada saat awal menikah, beradaptasi tidak hanya pada kebiasaan dan sifat pasangan, tetapi juga dengan mertua.

Mertua termasuk ujian terberat dalam rumah tangga karena tanpa disadari, mereka sering mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Sebagian orang mungkin sering timbul ketidakcocokan dengan mertuanya karena adanya perbedaan sifat dan pola pikir yang tak jarang memunculkan selisih paham. Maka, jika Anda sedang mengalaminya jangan menyudutkan pasangan maupun menjelekkan orang tuanya, sebab ia pasti kebingungan memilih siapa yang seharusnya dibela.

Anggaplah mertua seperti orang tua sendiri. Apabila sedang terlibat konflik dengannya, sebaiknya komunikasikan permasalahan tersebut kepada pasangan. Bagaimanapun juga, pasangan Anda adalah anaknya dan sudah hidup bertahun-tahun dengan keduanya, sehingga dirinya pasti lebih tahu mengenai ayah maupun ibunya.

Pentingnya mengkomunikasikan jika ada masalah dengan mertua kepada pasangan, bukan hanya mencari penyelesaian saja.  Akan tetapi, hal ini penting untuk menjaga hubungan antara dua keluarga maupun hubungan dengan pasangan Anda.

Apabila sudah mampu melewati ujian terberat berupa konflik dengan mertua ini, dipastikan ikatan pernikahan juga semakin erat, serta hubungan dengan mertua juga selalu harmonis karena sudah mampu mengetahui sifat dan kepribadian masing-masing.

4. Kehadiran Sang Buah Hati dalam Keluarga

Kehadiran sang buah hati dalam keluarga merupakan sesuatu yang pasti ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan yang sudah menikah. Terlebih lagi, apabila sudah sangat lama belum memiliki momongan dan sudah panas mendengar ucapan sana-sini yang menuntut untuk segera memiliki anak.

Ujian berat ini terutama terjadi pada wanita, seringkali mendapat tuntutan dari lingkungan sekitarnya untuk memiliki anak. Padahal, kondisi setiap orang berbeda-beda, ada yang siap dan ada pula yang belum siap untuk memiliki momongan. Sehingga, tuntutan dari lingkungan tersebut seringkali membuat kepikiran dan kesal setiap kali mendengarnya.

Tak hanya dalam menanti momongan, saat si buah hati sudah lahir pun juga bisa menjadi ujian dalam pernikahan. Anak memang sebuah perekat ikatan pernikahan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai permasalahan, salah satunya adalah dalam hal pola asuh.

Orang tua wajib mengetahui pola asuh anak yang baik supaya dapat mendidiknya dengan layak dan tidak menyimpang dari nilai-nilai dalam masyarakat. Pola asuh merupakan salah satu ujian terberat dalam rumah tangga, sehingga seringkali menimbulkan pertengkaran dari suami dan istri.

Sangat penting untuk mendiskusikan mengenai pola asuh anak bersama pasangan supaya ada kesepakatan dalam mendidik sang buah hati. Mendidik anak dengan pola asuh yang tepat, mampu membentuk karakter dan kepribadiannya dengan baik, mengurangi risiko terjadi broken home, serta meningkatkan keharmonisan dalam sebuah keluarga.

5. Kesetiaan dalam Menjalin Ikatan Pernikahan

Ujian terberat lainnya pada rumah tangga adalah kesetiaan dalam pernikahan. Pada saat akad nikah, telah diucapkan janji suci dan kesetiaan dalam membangun rumah tangga. Namun, tak semua pasangan mampu mempertahankannya.

Ujian terberat dalam rumah tangga berupa kesetiaan misalnya rasa jenuh pada pasangan dan perselingkuhan. Keduanya merupakan momok paling ditakuti karena membuat retaknya ikatan pernikahan dan akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Rasa jenuh pada pasangan ketika sudah menikah dapat disebabkan oleh kurangnya waktu berdua, masalah komunikasi, dan tidak ada aktivitas atau kegiatan yang dapat mempererat hubungan lainnya. Hal ini sebenarnya dapat dicegah dengan membangun komunikasi baik dengan pasangan, serta berusaha untuk memahami untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan masing-masing.

Perselingkuhan juga merupakan ujian terberat dalam rumah tangga karena benar-benar menguji mental dan kesabaran. Tidak ada pasangan yang menginginkan adanya orang ketiga dalam sebuah hubungan, namun hal ini dapat terjadi jika ada pemicu tertentu. Misalnya pasangan kurang menarik, kurang diperhatikan, atau penyebab lainnya.

Apabila Anda dan pasangan mampu melewati ujian berat ini dengan baik tanpa perpisahan, maka hubungan dapat semakin erat. Maka dari itu, saling introspeksi diri dan berbenah bersama menjadi lebih baik sangat diperlukan setiap suami maupun istri.

Itulah kelima ujian terberat dalam rumah tangga. Setiap kehidupan pernikahan pasti memiliki ujiannya tersendiri. Maka ketika Anda dan pasangan mampu melaluinya, dapat meningkatkan keharmonisan karena sama-sama berusaha mempertahankan ikatan pernikahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.