Lompat ke konten

Mengenal Hustle Culture, Budaya Gila Kerja di Kalangan Milenial

/ Diverifikasi oleh: Geraeldo Sinaga, S.Psi.

Mengenal Hustle Culture atau Budaya Gila Kerja di Kalangan Milenial

Hustle culture atau budaya gila kerja akhir-akhir ini marak di kalangan milenial. Terutama sejak semakin berkembangnya teknologi yang juga menyebabkan kebiasaan kerja tanpa hini sudah menjadi sebuah gaya hidup.

Tak banyak kalangan milenial atau anak muda menyadari bahwa dirinya telah terjebak dalam hustle culture, sehingga tak merasakan bahwa bisa jadi terjadi ketidak seimbangan antara waktu kerja dan kehidupan pribadi. Padahal, setiap manusia telah diberikan batas kemampuan agar tidak berlebihan dalam melakukan segala sesuatu.

Hustle culture ini bermula dari sebuah pernyataan bahwa jika ingin sukses, maka harus bekerja dengan sangat keras dan memprioritaskan pekerjaan di atas segalanya. Sekilas, hustle culture ini terdengar seperti motivasi agar lebih mudah mencapai kesuksesan. Mungkin ada benarnya, tetapi tentu hal ini tidak selamanya baik, terutama bagi kesehatan dalam jangka panjang.

Banyak orang pun mengira, semakin sering bekerja, dihubungkan dengan cepatnya naik jabatan hingga mendapatkan puncak karir, serta memiliki penghasilan dalam jumlah besar. Namun perlu diketahui, meskipun kebiasaan memprioritaskan pekerjaan di atas segalanya, sebaiknya ketahui batas maksimal tubuh Anda dapat menerima tekanan. Sebab, tentu kebiasaan seperti ini dampaknya tak baik juga untuk kesehatan mental manusia.

Lantas, mengapa budaya gila kerja ini sangat populer di kalangan milenial? Mari kita mengenal lebih jauh seputar hustle culture, beserta ciri dan dampaknya. Simak rincian penjelasannya berikut ini.

Mengenal Budaya Gila Kerja atau Hustle Culture

Hustle culture akhir-akhir ini sangat populer di kalangan milenial, terutama di Indonesia. Apalagi didukung dengan semakin berkembangnya teknologi dan menjamurnya perusahaan tipe startup, sehingga kebiasaan seperti ini sudah seperti menjadi gaya hidup.

Pengertian hustle culture sendiri adalah sebuah gaya hidup di mana seseorang merasa bahwa dirinya harus bekerja keras tanpa banyak meluangkan waktu untuk beristirahat. Tujuannya supaya dianggap lebih sukses, entah karena dirasa berhasil mencapai puncak karir, maupun mendapatkan banyak keuntungan dari pekerjaannya di usia muda.

Sebenarnya hustle culture pertama kali muncul pada tahun 1971, tapi akhir-akhir ini cepat sekali menyebar, kemudian jadi sangat populer di kalangan generasi muda karena perkembangan teknologi semakin pesat. Mereka menganggap bahwa bekerja keras untuk hidup demi mencapai kekayaan, kemakmuran, serta kesuksesan dalam hidup, tapi tak mempedulikan bagaimana kondisi kesehatannya.

Bentuk gaya hidup tersebut yang telah menjadi tren di kalangan anak muda, sebagian tak menyadarinya karena sudah menjadi kebiasaan dalam gaya hidupnya. Akan tetapi, ada juga yang hanya ikut-ikutan tren supaya dianggap keren dan paling sibuk bekerja.

Sebenarnya, fenomena ini tidak hanya dirasakan di kalangan para pekerja, bisa juga terjadi di kalangan mahasiswa dan anak sekolah. Misalnya seringkali sibuk dengan berbagai tugas sekolah, ikut les atau kursus, maupun berbagai kegiatan lainnya, yang membuat mereka menjadi sangat sibuk dan kurang beristirahat.

Ciri Seseorang Terserang Hustle Culture

Banyak orang tak menyadari bahwa dirinya terserang budaya gila kerja. Kebanyakan dari mereka baru menyadarinya ketika sudah terlanjur burnout akibat terlalu lelah bekerja.

Adapun ciri dari para penganut hustle culture tidak sebatas sibuk dan memprioritaskan pekerjaannya saja. Tetapi, beberapa ciri ini juga mengindikasikan seseorang sebagai penganut kebiasaan tersebut. Ciri lainnya, antara lain kurangnya waktu beristirahat dan santai, sering mengalami burnout akibat kelelahan, targetnya tidak realistis bahkan terlampau tinggi, merasa tak pernah puas, serta kehilangan work life balance atau keseimbangan dalam hidup.

Para penganut gaya hidup tersebut biasanya memiliki target terlalu tinggi dan kesannya tidak realistis. Bahkan tak pernah puas dengan hasilnya, akibatnya mereka terus bekerja tanpa henti, menjadi kurang waktu beristirahat, sampai akhirnya burnout karena kelelahan. Siklus tersebut terus berulang setelah keadaannya pulih karena belum tentu akan menyadari dampak negatif kesehatan dalam jangka panjang.

Seseorang dengan ciri tersebut biasanya memiliki kegiatan yang cenderung padat. Sehingga hanya sedikit memiliki waktu bagi dirinya sendiri maupun keluarga dan lingkungan sosialnya. Tentu saja kebiasaan ini sangat tidak baik jika diteruskan dan tidak mencapai work life balance karena dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Beberapa Penyebab Maraknya Budaya Gila Kerja

Berdasarkan ciri-ciri penganut hustle culture tersebut, pasti ada penyebab awal mereka melakukan kebiasaan tersebut. Beberapa penyebabnya, antara lain keinginan untuk mencapai puncak karir lebih cepat, memaksimalkan waktu untuk produktif, adanya kemajuan teknologi, tuntutan lingkungan, dan toxic positivity.

Banyak pekerja ingin mencapai puncak karir lebih cepat, sehingga bekerja keras dan memaksimalkan waktunya agar lebih produktif. Apalagi didukung dengan kemajuan teknologi yang menjadi dorongan bagi mereka selama berkarir.

Namun, penyebab lainnya yaitu adanya tuntutan lingkungan. Biasanya dari tetangga, teman, bahkan keluarga sering menuntut perihal kestabilan finansial dan kekayaan di usia muda. 

Kemudian adanya toxic positivity ini juga menjadi penyebab maraknya hustle culture. Toxic positivity merupakan dorongan untuk membuat seseorang selalu berasumsi positif meskipun sedang dalam situasi tertekan. Misalnya, “Semangat, ya! Kalau lebih giat lagi pasti bisa, kok”.

Kedengarannya sangat memotivasi, akibatnya seseorang tetap semangat meskipun sedang berada dalam kondisi paling sulit. Padahal jika lelah sebaiknya beristirahat saja, sesuaikan dengan batas kemampuan diri agar tidak burnout.

Dampak Negatif Budaya Gila Kerja

Hustle culture memiliki sisi baik seperti memaksimalkan waktu untuk lebih produktif agar bisa mencapai puncak karir. Namun, dampak negatif yang ditimbulkan nyatanya jauh lebih banyak dan mengancam kesehatan fisik maupun jiwa.

Dampak negatif kebiasaan tersebut, antara lain kurang memiliki waktu untuk diri sendiri maupun lingkungan sosial, resiko terjadi burnout akibat kelelahan, dampak pada kesehatan fisik maupun kondisi mental, serta gangguan pada work life balance.

Kurangnya memiliki waktu untuk diri sendiri dan lingkungan sosial akibat terlalu sibuk, seringkali menyebabkan hubungan dengan orang lain menjadi buruk karena menjadi jarang berinteraksi. Padahal, setiap manusia pun juga perlu meluangkan waktu untuk dirinya sendiri demi mengistirahatkan pikiran sekaligus mencegah terjadinya burnout, sehingga tidak tercipta work life balance.

Selain itu, kebiasaan menganut hustle culture dapat berdampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental, bahkan efeknya pun jangka panjang. Bekerja di luar batas kemampuan meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung, GERD, terjadi peningkatan tekanan darah, maupun gangguan kesehatan lainnya. Adapun resiko tersebut juga bisa menyebabkan terjadinya kematian.

Dampak kesehatan mental akibat hustle culture berupa depresi, perasaan insecure, mudah tersinggung, perfeksionis, dan mudah cemas akibat banyaknya beban kerja yang terlalu dipikirkan. Maka dari itu, demi kesehatan mental tetap terjaga sebaiknya lakukan kesibukan sewajarnya saja.

Hustle Culture atau Budaya Gila Kerja di Indonesia

Hustle culture atau budaya gila kerja sudah banyak menjamur di Indonesia, terutama di kalangan anak muda. Padahal dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan dan Undang-Undang Cipta Kerja sudah dijelaskan bahwa jam kerja dalam sehari adalah 7-8 jam, dalam satu pekan 40 jam untuk 5-6 hari, serta ada 1 hari untuk libur.

Di Indonesia, banyak bermunculan kasus depresi akibat kelelahan karena budaya gila kerja. Apalagi pada masa pandemi, di mana pekerjaan pun dapat dilakukan dari rumah, lalu banyak perusahaan menerapkan jam kerja terlampau fleksibel dan di luar batas. Tak jarang hal ini pun membuat perusahaan seringkali meremehkan soal kondisi kesehatan mental dan fisik para pegawainya karena menganggap work from home tidak melelahkan, meski tak semuanya berperilaku demikian.

Bagaimana Menyikapi Hustle Culture agar Tercipta Work Life Balance?

Penganut hustle culture seringkali melupakan beberapa hal dalam kehidupan, antara lain kesehatan mental, hubungan sosial dan asmara, interaksi dengan anggota keluarga, maupun waktu untuk dirinya sendiri. Inilah yang menyebabkan tidak terciptanya work life balance atau keseimbangan dalam hidup.

Sebenarnya, budaya gila kerja atau hustle culture ini merupakan suatu kemajuan dan tidak dapat ditolak mentah-mentah begitu saja, jadi tidak melulu soal gaya hidup buruk. Namun, sebaiknya sewajarnya saja saat melakukannya agar tidak menimbulkan dampak negatif dari segi sosial, maupun kesehatan.

Hustle culture memang membuat banyak pekerja menjadi produktif dan semangat untuk berkarir. Tetapi ada baiknya jika tidak terlalu memaksakan diri, beristirahatlah dan usahakan membagi waktu secara seimbang untuk diri sendiri, kehidupan sosial, serta waktu khusus bekerja agar tercipta work life balance.

Seperti itulah penjelasan agar lebih mengenal hustle culture atau budaya gila kerja di kalangan milenial. Bagaimanapun juga work life balance juga perlu supaya hidup tetap seimbang, memiliki waktu luang untuk beristirahat demi mencegah dampak negatif yang ditimbulkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.