Lompat ke konten

6 Alasan Istri Selalu Salah Di Mata Suami

/ Diverifikasi oleh: Tim Better Parent

Alasan Istri Selalu Salah di Mata Suami

Menjadi seorang istri bukanlah suatu peran mudah. Tak jarang pada sebagian kasus dalam rumah tangga, istri selalu salah di mata suami bahkan sampai disudutkan. Hal ini tentu saja membuat tertekan dan tidak bahagia dalam menjalani kehidupan pernikahan.

Seorang suami yang selalu menyalahkan dan menyudutkan pasangannya merupakan perbuatan tercela. Sebab, seharusnya ia tahu bahwa menjadi istri sekaligus ibu yang baik tak semudah yang dipikirannya.

Ketika Anda sebagai istri sering mendengar suami menyalahkan Anda seperti, “Ini semua gara-gara kamu nggak bisa melakukan sesuatu dengan benar!”, tentu saja terdengar sangat menyakitkan. Padahal ketika Anda disudutkan, bisa saja yang salah justru suami Anda, tetapi ia enggan dan gengsi mengakuinya, lalu mencari-cari kesalahan pada pasangannyanya sendiri.

Akan tetapi tanpa disadari, para istri cenderung membiarkan saja perilaku suaminya yang seperti itu. Alasannya tak sanggup untuk melawan karena takut semakin disudutkan. Padahal jika perbuatannya terus dibiarkan, sang suami seterusnya tetap akan berperilaku seperti itu.

Maka, Anda sebaiknya mengetahui alasan istri selalu salah di mata suami sebagai berikut:

1. Terlalu Banyak Berekspektasi pada Kehidupan Rumah Tangga supaya Sempurna

Kepribadian seorang perfeksionis dan menuntut adanya kesempurnaan dalam hidup sebenarnya bagus, asalkan tidak berlebihan. Hal ini karena tak ada satupun makhluk yang sempurna.

Suami dengan sifat perfeksionis biasanya sangat suka menuntut segala sesuatu, terutama pada rumah tangganya harus serba sempurna. Apabila sesuatu tersebut bertentangan dengan keinginannya, ia akan mudah marah dan menyalahkan pasangannya karena dianggapnya tidak becus dalam melaksanakan tugas rumah tangga sebagai istri sekaligus ibu untuk anak-anaknya.

Padahal faktanya, menjadi istri sekaligus ibu yang sempurna bagi keluarga bukan perkara mudah. Daripada melihat dari sisi kesempurnaan saja, seharusnya suami yang perfeksionis dan banyak menuntut melihat dari sisi perjuangan seorang istri untuk menjadi yang terbaik.

Akan tetapi, apabila tidak bisa dalam mendidik anak dan mengurus suaminya dengan baik wajar saja jika suami sering marah kepada Anda. Sebab pembentukan karakter anak dan keharmonisan dalam keluarga bergantung dari ayah dan ibunya.

Jangan selalu memandang ia dari sisi negatif karena tak akan mengubah keadaan. Sudah seharusnya Anda juga mengintrospeksi diri apakah sudah menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarga atau belum.

Terlalu banyak berekspektasi pada kehidupan pernikahan membuat suami lebih memilih teman-temannya atau justru selingkuh dengan wanita yang sesuai ekspektasinya. Menghadapi suami selingkuh juga bukanlah perkara mudah, apalagi jika sampai merasa bahwa istrinya tidak lebih baik dari wanita simpanannya.

2. Suami Memiliki Kepribadian Narsistik

Definisi dari kepribadian narsistik (Narcissistic Personality Disorder) adalah gangguan kepribadian di mana penderitanya merasa dirinya orang paling penting, biasanya cenderung tidak ingin disalahkan oleh siapapun. Kepribadian narsistik ini sering ditemukan pada pria. Penyebab gangguan ini belum diketahui, bisa jadi dari faktor lingkungan maupun genetiknya.

Pria dengan kepribadian narsistik sangat terobsesi pada dirinya sendiri. Terutama ketika ia melakukan suatu kesalahan, gengsinya begitu tinggi dan enggan disalahkan meskipun oleh istrinya sendiri. Justru ia mencari celah untuk menyalahkan pasangannya sendiri agar harga dirinya tidak merasa dijatuhkan.

Suami narsistik kebanyakan cenderung enggan untuk memulai untuk meminta maaf kepada istrinya meskipun dirinya lah yang melakukan kesalahan. Sebab mau bagaimanapun posisinya, ia merasa sebagai seorang kepala keluarga harus dihormati oleh pasangan dan anaknya. Hal inilah membuat posisi istri selalu salah di matanya.

Saat hal itu terjadi, biasanya seorang istri akan lebih memilih diam dan mengalah atas perlakuan suaminya. Lantas, mau bagaimana lagi? Pria jika sudah memiliki kepribadian narsistik biasanya tidak ingin dilawan, jika melawannya justru semakin membuat istri disudutkan dan diungkit segala kesalahannya di masa lalu.

3. Kekurangan Rasa Percaya Diri sebagai Kepala Rumah Tangga

Seorang suami yang selalu menyalahkan istrinya bisa jadi karena ia kekurangan rasa percaya diri sebagai kepala rumah tangga yang bertugas mengemban berbagai macam tanggung jawab untuk keluarga. Sebab, ia merasa bahwa dirinya kehilangan peran sebagai kepala keluarga sekaligus ayah yang baik bagi buah hatinya.

Penyebab kekurangan rasa percaya diri sebagai kepala rumah tangga bisa karena ia jarang didengarkan ketika berbicara atau berpendapat, maupun usahanya demi keluarga sering tidak berhasil dan tak dipedulikan. Hal ini yang menyebabkan ia minder dan ada perasaan takut dinilai sebagai orang tua atau suami yang gagal dalam membina keluarga.

Akan tetapi, ia tak ingin kekurangannya tersebut terlihat oleh keluarga kecilnya. Akibatnya, sang suami melakukan berbagai cara untuk menutupi kekurangan sekaligus meningkatkan rasa percaya dirinya tersebut.

Ketika usahanya untuk meningkatkan rasa percaya diri malah gagal, biasanya ia menyalahkan istri atau anaknya sebagai penyebab bermulanya suatu permasalahan. Hal ini jelas bukanlah hal baik, sebab bisa menyebabkan konflik dalam rumah tangga yang berakibat tidak harmonisnya hubungan keluarga.

Tidak harmonisnya suatu keluarga dapat berimbas pada kondisi psikis atau kejiwaan anak karena broken home. Bagaimanapun juga anak tetap saja menjadi korban ketika ayah dan ibunya sering terlibat konflik, apalagi sampai saling menyakiti satu sama lain.

Sebagai istri, Anda sudah seharusnya memberikan dukungan terhadapnya agar tidak minder karena gagal dalam melakukan sesuatu. Memberikan suasana positif dalam keluarga bisa membuat ia menjadi nyaman dan merasa bahwa keluarga pasti akan selalu mendukungnya sebagai kepala rumah tangga, sehingga ia pun tak akan kekurangan percaya diri lagi.

Upaya mendukung suami bisa dengan cara memanjakannya agar lebih betah dan semakin sayang pada Anda sebagai istrinya. Tak hanya itu, hindari untuk meremehkannya karena bisa menjatuhkan harga dirinya.

4. Istri Tidak Akrab dengan Mertua atau Keluarga Suami

Ketika sudah menikah, artinya dua keluarga sudah menjadi satu. Sehingga mau tidak mau kedua pihak keluarga harus bisa saling mengakrabkan diri agar dapat terjalin ikatan kekeluargaan yang baik. Maka dari itu apabila suami sering menyalahkan pasangannya, bisa jadi penyebabnya karena sang istri kesusahan untuk mengakrabkan diri dengan keluarga suami.

Wajar saja suami sangat kesal jika istrinya tak bisa akrab dengan keluarganya, apalagi jika masih tinggal bersama mertua dalam satu atap ataupun satu lingkungan. Seorang lelaki pasti ingin wanitanya akrab dengan keluarganya karena bagaimanapun juga mertua juga berperan penting dalam kehidupan keduanya.

Mungkin seorang istri merasa tidak nyaman dengan perlakuan mertua terhadapnya, sehingga membuat ia susah untuk mengakrabkan diri. Rasa tidak nyaman itu pasti ada, terutama ketika awal pernikahan karena adanya perbedaan sifat dan kebiasaan antara istri dengan mertuanya.

Sebaiknya sebagai istri, Anda dapat mengutarakan keresahan kepada pasangan supaya ia berhenti untuk terus menyalahkan Anda. Ia berhak tahu apa yang dirasakan istrinya supaya tak terjadi kesalahpahaman berujung konflik. Maka dari itu, jangan pernah menutupi perasaan kurang nyaman dan jalinlah komunikasi baik agar tercipta kehidupan pernikahan yang harmonis.

5. Istri Tidak Bisa Memperlakukan Suami dengan Baik

Seorang suami wajar bila kesal dengan istrinya karena tak bisa memperlakukannya dengan baik. Misalnya tidak memberikan hak untuk suami, banyak menyembunyikan sesuatu di belakangnya, jarang menunjukkan cinta maupun kasih sayang, apalagi ketika selalu gagal saat melakukan pengelolaan keuangan rumah tangga secara bijaksana, serta bersikap egois.

Sikap tersebut wajar saja jika membuat suami sering terus membuat istri selalu salah karena perilakunya buruk atau tak pantas. Bahkan mungkin tak sadar jika dirinya bersikap demikian di hadapan suaminya.

Padahal, memperlakukan suami dengan baik sudah merupakan kewajiban seorang istri. Oleh karena itu, apabila Anda merasa bahwa ia selalu menyudutkan dan menyalahkan sepihak, sebaiknya lakukan introspeksi pada diri sendiri.

Jangan gengsi untuk mengakui kesalahan maupun introspeksi diri. Anda juga bisa bertanya langsung apa alasan suami supaya tidak terus menyalahkan, sehingga Anda pun bisa berubah menjadi istri lebih baik.

6. Tidak Merasa Bahagia dengan Kehidupan Pernikahan

Tidak merasa bahagia dengan kehidupan pernikahan bisa jadi merupakan alasan istri selalu salah di mata suami. Ketika hal ini terlanjur terjadi, dirinya sudah enggan memulai diskusi untuk menyelesaikan konflik. Tidak bahagia dengan kehidupan pernikahan merupakan salah satu penyebab perceraian.

Kehidupan pernikahan tidak bahagia biasanya diawali dengan kesalahpahaman, kurang komunikasi, serta kurang terbuka satu sama lain. Hal inilah yang menyebabkan istri selalu salah karena tidak bisa satu frekuensi dengan suami.

Cobalah untuk mengajaknya berdiskusi dan saling introspeksi diri. Bagaimanapun juga, saling terbuka dalam kehidupan pernikahan merupakan hal sangat penting untuk membangun keluarga harmonis.

Mulailah perlakukan suami dengan baik agar dirinya merasa nyaman dan Anda tidak selalu salah di matanya. Misalnya dengan selalu tampil menarik di hadapannya, membuatnya nyaman di rumah, serta mampu membedakan prioritas dan keinginan. Lakukan hal tersebut supaya ia bisa bahagia dengan kehidupan pernikahannya.

Jadi, itulah alasan mengapa istri selalu salah di mata suami. Biasanya disebabkan karena kurangnya komunikasi dan tidak saling terbuka satu sama lain. Baik suami maupun istri, sudah seharusnya melakukan komunikasi baik dan terbuka supaya bisa membangun keluarga harmonis dan menghindari sebab-sebab perceraian.

Selain itu, jangan menempatkan istri pada posisi selalu salah apalagi sampai menyudutkannya. Suami yang baik seharusnya bisa memandang permasalahan dari berbagai sisi. Selain itu, jika Anda sebagai seorang istri melakukan suatu kesalahan, sudah seharusnya mengintrospeksi diri agar tidak terjadi lagi hal serupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.