Lompat ke konten

7 Penyebab Anak Selalu Salah Di Mata Orang Tua

/ Diverifikasi oleh: Tim Better Parent

Penyebab Anak Selalu Salah di Mata Orang Tua

Setiap orang tua pasti ingin anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga tak jarang mereka pasti memberikan nasihat-nasihat agar buah hatinya juga menjadi pribadi yang baik di lingkungan. Akan tetapi tanpa disadari, ayah dan ibu telah memperlakukan anaknya secara semaunya sendiri, tentu saja hal ini tidak baik bagi kondisi psikologisnya nanti.

Mendidik anak dengan baik memang sudah seharusnya merupakan tanggung jawab kedua orang tua agar ia bisa berperilaku secara baik dan pantas ketika terjun ke masyarakat. Walaupun begitu, nyatanya ketika ia melakukan kesalahan seringkali disalahkan tanpa melihat situasi dan kondisi, di depan umum misalnya. Padahal hal ini tak baik bagi mentalnya karena menyebabkannya malu dan takut selalu gagal.

Selalu menyalahkan anak tanpa melihat situasi dan kondisi yang dialami sebaiknya tidak lagi dilakukan. Inilah beberapa penyebab anak selalu salah di mata orang tua yang perlu diketahui:

1. Belum Memiliki Pengalaman dan Pemikiran yang Sama dengan Orang Tua

Seorang anak memang memiliki pengalaman belum sebanyak ayah dan ibunya. Hal ini karena mereka masih dalam tahap belajar di usianya, sehingga masih perlu bimbingan atau arahan dari orang lain.

Anak yang belum memiliki banyak pengalaman sudah seharusnya orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan menuntunnya untuk melakukan sesuatu yang baru. Jangan pernah memarahinya ketika ia melakukan kesalahan, akan lebih baik jika diberi nasihat dan solusi yang mudah dimengerti agar ia cepat belajar.

Anak juga memerlukan tambahan wawasan dan ilmu pengetahuan agar ia semakin paham tentang kehidupan. Ayah dan ibu tentu memiliki lebih banyak pengalaman asam dan garamnya kehidupan untuk diceritakan kepada si buah hati.

Perlu diketahui bahwa anak memiliki pola pikir berbeda dengan orang tuanya. Ia belum bisa 100 persen memiliki pemikiran yang sama dengan ayah dan ibunya, sehingga ia pun kemungkinan tidak akan hidup sesuai apa yang dirasakan orang tuanya di masa lalu.

Lebih baik ceritakan secara sederhana agar mudah ditangkap oleh si buah hati mengenai pelajaran hidup saat sedang quality time bersama keluarga supaya waktunya lebih santai. Namun, jangan meyalahkannya ketika ia tak memahami dan menyangkal ketika ia tidak ingin melakukannya.

2. Orang Tua Terlalu Ingin Merasa Menang Sendiri

Anak selalu salah di mata orang tua bisa jadi karena ayah dan/atau ibunya memiliki kepribadian yang narsistik (Narcissistic Personality Disorder). Kepribadian narsistik ini adalah suatu gangguan yang menyebabkan seseorang menjadi lebih rasa diri dan merasa lebih unggul daripada siapapun, sehingga biasanya orang seperti ini cenderung tak pernah mau disalahkan.

Orang tua yang memiliki kepribadian ini biasanya akan merasa dirinya selalu benar juga lebih suka menyalahkan anaknya tanpa melihat situasi dan kondisi. Selain itu, mereka yang memiliki kepribadian seperti ini cenderung tak ingin memberikan ruang untuk buah hatinya berdiskusi, berdebat, maupun menjelaskan karena mereka tak ingin disalahkan ataupun menerima kritik dari siapapun.

Tak hanya itu, biasanya ayah dan/atau ibu dengan kepribadian narsistik ini menghindari perdebatan bersama anaknya dengan cara memberikan hukuman dan omelan agar buah hatinya tak bisa mengelak lagi. Apabila anaknya berpendapat, biasanya pasti pendapatnya tersebut dicari celah kesalahannya agar sesuai dengan pendapat orang tuanya itu sendiri.

Inilah mengapa tipe orang tua seperti ini sangat susah mengerti perasaan anaknya, padahal mereka pun membutuhkan tempat agar didengar dan dipahami.

3. Orang Tua Belum Tentu Mengerti Apa yang Dikerjakan Oleh Anaknya

Mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh si buah hati merupakan sebuah keharusan yang dilakukan oleh ayah dan ibu. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana tumbuh kembang anaknya dan memastikan dirinya selalu dalam keadaan baik-baik saja.

Namun saat ini, kebanyakan orang tua sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya, bahkan seringkali lupa untuk memperhatikan anaknya. Akibatnya, si buah hati menjadi kurang kasih sayang serta merasa tak ada perhatian didapatkan.

Ketika ayah dan ibu sibuk bekerja, belum tentu mengerti apa yang sedang dirasakan maupun dikerjakan oleh buah hatinya. Sehingga, ketika ia melakukan sesuatu selalu saja dianggap salah, bahkan ketika sakit pun seringkali dianggap salah.

Contohnya adalah ketika ia sedang sakit demam, lalu ayah atau ibu berkata padanya, “Tuh, kan demam. Makanya jangan main terus, mending belajar aja!”. Padahal faktanya, ia belajar tetapi demam karena kehujanan saat pulang sekolah.

Perilaku mereka yang seperti ini tentu bisa membuat mental anaknya menjadi tidak baik. Sebaiknya tanyakan kepadanya dengan lembut mengapa bisa sakit, atau melakukan sesuatu yang salah, dan pertanyaan baik lainnya agar si buah hati pun tak merasa tertekan.

Jangan pernah menilai anak Anda secara sepihak. Ketahuilah terlebih dahulu mengapa mereka melakukan sesuatu yang salah dan tak menyalahkannya tanpa melihat situasi kondisi.

4. Orang Tua Merasa Memiliki Gagasan Sempurna untuk Anak

Semua manusia tidak ada yang sempurna, terutama anak dan orang tua. Keduanya pun pasti bisa saja melakukan kesalahan sewaktu-waktu. 

Tugas dan tanggung jawab ayah juga ibu adalah menanamkan nilai-nilai kebaikan dan perilaku yang pantas untuk buah hatinya. Menanamkan gagasan yang sempurna tentu saja tak selalu membuat anak tersebut menjadi sempurna sesuai keinginan.

Perlu diketahui pula, anak bukanlah robot atau mainan yang bisa diperlakukan sesuka hati. Menanamkan gagasan yang sempurna apalagi terlalu mengekang tentu saja membuat ia tertekan dan merasa terbebani.

5. Kurang Mendengarkan dan Mengerti Perasaan Anak

Setiap manusia tentu saja butuh didengarkan, tak terkecuali seorang anak. Ia memiliki perasaan dan masalahnya sendiri, sama seperti manusia lainnya.

Akan tetapi, ketika ia berbuat suatu kesalahan yang tak disengaja, orang tuanya selalu menyalahkannya tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya. Padahal sangat penting untuk mendengarkan penjelasan, agar bisa memandang masalah tidak hanya dari satu sisi saja.

Bisa saja apa yang ingin dijelaskannya juga sangat penting dan bisa saja si buah hati benar atau jujur dalam mengatakannya. Ia masih dalam tahap belajar, sehingga ketika melakukan kesalahan sebaiknya ditegur dengan baik dan memahami perasaannya.

Dampak negatif bagi psikologisnya, antara lain membuatnya selalu takut kegagalan, tidak berkembang, anxiety disorder, mudah menyalahkan orang lain, sering emosi, juga lebih sering berbohong. Mereka lebih sering berbohong untuk menutupi kesalahannya karena ia tak ingin lagi disalahkan oleh ayah dan ibunya.

Maka dari itu, sangat penting untuk mendengarkan dan juga mengerti perasaan seorang anak. Jangan pernah menilainya secara negatif seperti “Anak nggak bener, apa-apa salah terus!” karena dapat berdampak negatif bagi psikologisnya.

6. Terlalu Berekspektasi Tanpa Melihat Kondisi Anak

Setiap orang tua pasti ingin mendidik anaknya dengan baik dan bisa berguna bagi banyak orang. Bahkan sampai terlalu memasang ekspektasi tinggi pada si buah hati.

Terlalu berekspektasi pada anak dapat membuatnya tertekan secara mental, terutama jika ia merasa tak menyukai tuntutan tersebut justru akan menjadikannya beban. Sebab ia tahu bahwa jika tuntutan tersebut tak dilakukannya dapat membuat ia disalahkan terus-menerus atau mungkin menjadi bahan perbandingan dengan anak lainnya.

Setiap anak memiliki kepribadian berbeda-beda, maka dari itu sebaiknya kurangi ekspektasi terlalu tinggi padanya. Lebih baik mengembangkan potensi dan minat yang dimilikinya, sebab hal ini akan membuatnya lebih bebas berekspresi dan mengembangkan dirinya di luar sana.

Selain itu, hindari menuntutnya untuk menjadi apa yang Anda inginkan. Hal ini karena setiap anak pasti ingin menjadi sesuatu sesuai kehendaknya. Jadi, selama hal itu positif lebih baik mendukungnya saja.

7. Seorang Anak Pertama

Tak dipungkiri lagi, bahwa fakta anak pertama selalu menjadi yang selalu salah di mata orang tuanya. Biasanya berkaitan dengan menjaga adik dan melakukan tanggung jawab yang diamanahkan oleh ayah dan ibunya.

Contohnya adalah ketika kakak diminta untuk menjaga adiknya, lalu ketika adiknya terluka tentu saja kakaknya yang disalahkan. Dalam hal ini pun biasanya ayah dan ibu tak mau mendengarkan penjelasannya dan cenderung terus menyalahkan si sulung karena dianggap tidak becus.

Meskipun ia terluka, tetap saja ia akan disalahkan karena kebanyakan orang tua lebih mementingkan kondisi si bungsu saja. Sebab mereka menganggap bahwa adik adalah sesuatu yang harus dilindungi, padahal setiap anak memiliki hak sama untuk dilindungi ayah dan ibunya.

Oleh karena itu, meskipun anak pertama tidak seharusnya diperlakukan sedemikian rupa. Ia juga memiliki perasaan dan membutuhkan perhatian, sudah seharusnya ayah dan ibu berlaku adil kepada para buah hatinya.

Penyebab anak selalu salah di mata orang tua memang beragam seperti yang sudah dijelaskan di atas. Maka dari itu, sebaiknya mendengarkan penjelasan si buah hati serta memandang permasalahan dari berbagai sisi adalah hal penting agar tetap membuat ia merasa diperhatikan di rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.