Lompat ke konten

7 Contoh Tindakan Bullying di Sekolah dan Cara Mengatasinya

Tindakan Bullying

Tindakan bullying di sekolah mempunyai dampak membahayakan bagi kepribadian dan kondisi psikologis korbannya. Adanya rasa trauma berkepanjangan dapat membuat korbannya depresi, mengalami gangguan kecemasan, sampai seringnya timbul keinginan untuk bunuh diri.

Sebenarnya, tindak bullying atau biasa disebut perundungan di sekolah bukan hanya secara fisik dan verbal saja. Meniru aksen atau logat, menyebarkan keburukan seseorang di internet, pelecehan seksual, pemalakan, dan penyebaran berita bohong atau hoax pun termasuk perilaku perundungan.

Perundungan kerap terjadi di lingkungan sekolah. Hal ini justru dampaknya sangat besar karena berpengaruh pada pembentukan kepribadian korbannya ketika nanti ia dewasa. Maka, penting sekali bagi semua pihak, khususnya peserta didik, guru, dan orang tua menghindari terjadinya bullying di sekolah.

Bullying biasanya muncul dari hal sepele dan hanya dilakukan oleh individu saja. Tetapi kemudian seiring berjalannya waktu, biasanya semakin berkembang karena banyak yang mengikuti untuk menindas sekaligus mengintimidasi korban.

Lalu, bagaimana contoh tindakan bullying di sekolah dan cara mengatasinya? Anda wajib menyimak penjelasannya berikut ini.

Contoh Tindakan Bullying atau Perundungan di Lingkungan Sekolah

Tindakan bullying atau perundungan sering terjadi di lingkungan sekolah. Tak semuanya sadar bahwa mereka telah melakukan perundungan karena menganggapnya hanya sebatas candaan. Padahal nyatanya, hal ini dapat berdampak buruk pada kondisi psikis korbannya tanpa disadari.

Tidak hanya secara fisik dan verbal saja. Berikut ini contoh tindakan bullying atau perundungan di lingkungan sekolah.

1. Bullying secara fisik

Jenis bullying pertama yaitu secara fisik. Pada jenis ini, biasanya pelaku melakukan kekerasan dengan berbagai cara, misalnya memukul, menendang, ataupun sengaja melukai korban menggunakan benda-benda di sekitarnya.

Sama dengan jenis perundungan lainnya, bullying secara fisik juga menyebabkan korban mengalami trauma berkepanjangan. Bahkan tidak hanya terluka secara fisik, namun juga terluka secara mental.

Kondisi seperti ini berbahaya apabila tidak segera disadari oleh guru dan orang tua. Apalagi biasanya korban sangat takut diancam jika menceritakannya. Misalnya jika ada luka tidak biasa lalu didukung oleh perubahan perilaku pada anak, hal ini harus segera ditangani.

2. Bullying secara verbal

Bullying secara verbal adalah tindakan perundungan yang tidak menggunakan kekerasan fisik, namun melalui omongan-omongan menyakitkan untuk menyerang. Misalnya mengolok-olok, mengancam, maupun mengucapkan kata menyakitkan lainnya yang dapat membuat seseorang tertekan, kehilangan rasa percaya diri, ketakutan, bahkan depresi.

Meskipun tidak menyakiti secara fisik, perundungan verbal tetap saja menyakitkan karena langsung menyerang mental anak. Di sekolah hal seperti ini seringkali dianggap sepele atau mungkin hanya dianggap suatu candaan kalangan anak dan remaja, sehingga menyebabkan pelaku jadi lebih bebas beraksi. Padahal, tak semua orang tahu bagaimana kondisi psikis seseorang, mungkin ada yang kuat, namun tak semuanya bisa bersikap demikian.

3. Sexual bullying

Sexual bullying bukan hanya terjadi pada lawan jenis saja, namun bisa juga dilakukan berkelompok. Contoh tindakan perundungan tersebut, misalnya pemerkosaan, pelecehan seksual (baik verbal maupun fisik), chat berkonotasi seks, dan sebagainya.

Akhir-akhir ini sexual bullying sangat marak di kalangan anak sekolahan. Banyak sekali contoh kasusnya, misalnya kejadian hamil di luar nikah pada anak sekolah menengah, dilecehkan oleh teman sendiri, dan sebagainya. Oleh karena itu, guru dan orang tua sebaiknya tetap waspada supaya tidak terjadi hal tidak diinginkan pada anak atau peserta didik.

Selain itu, guna mencegah hal seperti ini terus berulang, adanya pendidikan seks sejak dini sangat penting. Bahkan tak boleh dianggap tabu karena justru menjadi bekal supaya anak sekolah tidak sembarangan melakukan seks bebas.

4. Cyber bullying

Seperti yang kita ketahui, dunia digital atau internet memang kejam. Sehingga, setiap orang pun harus berhati-hati dalam menggunakannya agar tidak terjerumus maupun terdampak hal negatif dari internet.

Anak sekolah zaman sekarang sudah pandai sekarang berselancar di internet. Mereka terlihat piawai sekali saat memainkan gawainya ataupun mengikuti tren yang sedang populer. Meskipun terlihat senang, tetap harus dalam pengawasan, sebab pikiran anak sekolah belum cukup dewasa untuk menyaring informasi di internet.

Hal paling ditakutkan adalah ketika anak tidak sengaja melakukan kesalahan yang membuat gempar dunia maya, kemudian terkena cyber bullying, dicaci maki, dan diteror oleh orang tak dikenal dari internet. Dampaknya sangat luar biasa, bisa jadi membuatnya enggan ke sekolah karena merasa malu atau tidak percaya diri, bahkan juga menyebabkannya jadi malas belajar akibat mengalami perundungan.

5. Prejudicial bullying

Adapun prejudicial bullying atau perundungan dengan menyerang suatu ras atau golongan tertentu, biasanya kerap menyerang orang-orang minoritas atau nampak berbeda dari lainnya. Contoh tindakannya seperti menirukan aksennya secara berlebihan, mengejek adat dan tradisi korbannya, dan sebagainya.

Banyak orang menganggapnya sebagai bahan bercandaan. Padahal kebudayaan, suku, agama, dan ras (SARA) bukanlah sebuah candaan. Itulah pentingnya mengedepankan toleransi, tujuannya supaya masing-masing bisa saling menghargai apa yang memang dipercayainya.

6. Financial bullying

Financial bullying banyak ditemui pada lingkungan sekolah. Tindakan ini biasanya berupa pemalakan atau penodongan demi memuaskan kebutuhan pelaku. Perundungan finansial ini juga bisa dibilang senioritas, di mana seseorang merasa berkuasa lalu bebas melakukan pemalakan ataupun meminta-minta pada korbannya.

Perundungan jenis ini biasanya membuat korbannya merasa ketakutan karena diancam. Biasanya para pelaku melakukannya pada anak yang kaya namun dianggap lemah, ataupun adik kelasnya.

7. Menyebarkan berita bohong atau hoax

Tak dipungkiri lagi, menyebarkan berita bohong atau hoax adalah tindakan merugikan siapapun. Apalagi jika berita tersebut bertujuan untuk menjatuhkan seseorang di suatu lingkungan sekaligus mempengaruhi orang sekitar untuk ikut menjatuhkan korban.

Penyebaran berita bohong atau hoax ini juga kerap ditemukan di lingkungan sekolah. Contohnya menyebarkan kebohongan mengenai sifat ataupun kondisi seseorang, sekaligus mempengaruhi teman-temannya untuk menjauhi korban.

Cara Mengatasi Bullying atau Perundungan di Lingkungan Sekolah

Berdasarkan jenis-jenis perundungan yang telah dijelaskan, semua pihak wajib sadar mengenai dampak negatifnya. Begini cara mengatasi bullying atau perundungan di lingkungan sekolah yang wajib diterapkan oleh pihak peserta didik, pihak sekolah, dan orang tua.

Pihak Peserta Didik

Sebagai peserta didik, wajib menyadari bahwa perundungan atau bullying tidak ada kerennya sama sekali. Justru malah merugikan orang lain, khususnya korban karena mereka mengalami trauma secara fisik dan psikis. Dampaknya pun bisa berupa depresi, gangguan kecemasan (anxiety), tidak percaya diri, tidak mau pergi ke sekolah, bahkan timbul keinginan untuk bunuh diri.

Cara mengatasinya bisa dilakukan melalui hal sederhana. Mulailah untuk menghargai orang lain, khususnya perbedaan, hindari melakukan kekerasan (baik fisik maupun verbal), serta selalu bijaklah dalam bersosialisasi, baik secara langsung maupun virtual.

Selain itu sebagai peserta didik sebaiknya pelajari dengan baik mengenai sex education, baik bersama orang tua maupun guru. Jangan menganggapnya sebagai hal tabu, hal ini penting agar Anda tidak mudah terjerumus dalam pergaulan dan seks bebas di luar sana.

Pihak Sekolah

Pihak sekolah juga turut andil untuk mengatasi tindakan perundungan di sekolah. Memberikan edukasi kepada para murid mengenai dampak dari bullying sebaiknya dilakukan sesering mungkin.

Selain itu, guru dan pihak sekolah pun wajib peka terhadap kondisi yang terjadi pada muridnya. Contohnya adalah meningkatkan empati dan rasa perhatian apabila terjadi sesuatu pada peserta didik. 

Tak hanya itu, apabila sudah terlanjur terdapat kejadian perundungan, sebaiknya pihak sekolah wajib menindak tegas para pelakunya supaya jera. Memberikan tindakan tegas diharapkan bisa mengurangi kejadian serupa yang bisa saja terjadi lagi di sekolah.

Pihak Orang Tua

Pihak orang tua juga perlu melakukan edukasi kepada anaknya agar tidak melakukan perundungan kepada teman-temannya di sekolah. Usahakan juga untuk menjadi pendengar terbaik bagi anak ketika ia sedang mengutarakan uneg-unegnya.

Selain itu, selalu berikan perhatian penuh sekaligus pengawasan kepada buah hati Anda agar mereka tidak terjerumus ke pergaulan bebas atau lingkungan pertemanan toxic. Buatlah anak merasa nyaman dan aman ketika bersama Anda sebagai orang tuanya, sehingga mereka tidak sungkan untuk terbuka dan bebas bercerita.

Bagaimanapun juga, tindakan bullying memang membawa dampak negatif, baik secara psikis maupun fisik. Maka dari itu, cara mengatasi perundungan adalah harus ada dukungan dari pihak peserta didik, orang tua, dan pihak sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.