Lompat ke konten

10 Pertanyaan Menjebak Pasangan Yang Sebaiknya Jangan Dilakukan

/ Diverifikasi oleh: Tim Better Parent

Pertanyaan Menjebak Pasangan yang Sebaiknya Tak Dilakukan

Mengajukan pertanyaan kepada pasangan, sebenarnya boleh saja dilakukan. Apalagi jika Anda sangat ingin mengenalnya lebih jauh. Sebab, dengan menanyakan beberapa hal kepadanya, dapat membuatnya lebih terbuka untuk menceritakan segala hal tentang dirinya.

Namun, berhati-hatilah sebelum mengajukan pertanyaan kepada pasangan, sebab bisa saja bersifat menjebak. Sehingga, bukan hanya ia kebingungan bagaimana cara menjawabnya, tetapi bisa jadi ia tersinggung karena mungkin pertanyaannya sangat sensitif baginya.

Bertanya soal hal-hal sensitif kepada pasangan juga sebaiknya tidak dilakukan. Selain bisa saja membuatnya sakit hati, bisa jadi akan memunculkan konflik yang berakibat pada keretakan hubungan asmara.

Sebagai pasangannya, mungkin Anda sendiri tidak tahu apapun dan tak sengaja telah terlanjur bertanya perihal sensitif kepada pasangan, padahal sebenarnya Anda hanya ingin mengenalnya lebih jauh. Sehingga, hal itu justru membuatnya semakin enggan terbuka dan memilih menjauh perlahan.

Maka dari itu, ketahuilah pertanyaan menjebak pasangan yang sebaiknya jangan dilakukan supaya tidak merusak hubungan.

1. Pertanyaan Soal Perbandingan Fisik atau Penampilan

Pertanyaan soal pendapat mengenai fisik atau penampilan sebenarnya sangat sepele. Akan tetapi, justru dapat menjebak pasangan dan membuatnya jadi serba salah, apalagi jika yang bertanya adalah seorang perempuan.

Contoh pertanyaan mengenai fisik dan penampilan ini misalnya, “Apa aku menarik?” atau mungkin seperti, “Menurutmu, lebih keren siapa, aku atau dia?”. Benar-benar sebuah pertanyaan yang sangat menjebak, bukan? Salah sedikit menjawabnya, dapat membuat pasangan jadi tersinggung.

Apabila Anda hendak bertanya demikian kepada pasangan, lebih baik urungkan niat. Sebab, khawatir apabila jawabannya tak sesuai ekspektasi lalu menyakiti hati dan merasa tidak percaya diri. Bagaimanapun juga, ia memilih Anda bukan soal fisik, jadi tetaplah berpikir positif kepadanya maupun diri sendiri.

2. Bertanya Soal Komitmen dan Memburu untuk Menikah

Bertanya soal komitmen kepada pasangan pun tak ada salahnya. Terutama jika hubungan yang terjalin sudah sangat lama, tujuannya supaya mengerti hendak dibawa ke mana hubungan tersebut. Entah berakhir, ataukah melanjutkan ke jenjang lebih serius.

Kejelasan soal hubungan memang perlu, namun nyatanya tak semua orang mampu berkomitmen. Apalagi jika Anda dan pasangan masih baru sebentar menjalin kasih, bertanya soal komitmen terlalu cepat sebaiknya tak dilakukan karena akan membuatnya bingung saat menjawab.

Sebelum memutuskan untuk menanyakannya, sebaiknya pastikan mengenal lebih jauh tentang dirinya. Seperti dalam Islam juga dijelaskan perihal memilih jodoh agar dapat memberikan banyak berkah dalam rumah tangga. Lalu, Anda pun harus mempertimbangkan apakah sudah bisa menerima segala kekurangan yang dimilikinya?

Hindari bertanya, “Kalau kamu serius, kapan mau menikah? Kita kan sudah tiga bulan pacaran”. Pertanyaan ini bersifat menjebak karena tak semua orang mampu menjawabnya dengan baik. Ada yang memang sudah merencanakan dengan matang, tetapi ada juga yang belum memikirkan sejauh itu untuk menikah.

Maka dari itu, hindari pertanyaan tersebut agar tidak memberi kesan memburu pasangan. Cobalah untuk mengenalnya secara lebih jauh terlebih dahulu, baik itu dirinya maupun keluarganya, kemudian bicarakan hal ini tanpa terlihat seperti memburunya saat pikiran sedang santai.

3. Bertanya tentang Mantan Kekasih

Terkadang, seseorang yang sudah menjalin asmara dengan orang baru penasaran dengan sosok mantan kekasih pasangannya. Padahal, bertanya perihal mantan kekasih ini bisa jadi sangat sensitif karena dapat menyakiti diri sendiri karena merasa sangat insecure maupun membuka luka lama pasangan.

Banyak konflik juga salah paham yang terjadi akibat terlalu kepo dengan mantan kekasih. Misalnya, “Dulu sama mantan kamu ngapain aja?” atau “Lebih baik mana aku atau mantan kamu?” atau “Ceritain dong dulu mantanmu gimana orangnya”. Pertanyaan tersebut bisa sangat menjebak dan sebaiknya tidak perlu ditanyakan.

Tak semua orang bisa berdamai dengan masa lalunya. Sehingga, daripada Anda mengulik luka lama, lebih baik berusahalah untuk menyembuhkannya dengan bersikap lebih baik daripada mantan kekasihnya dahulu.

4. Pertanyaan Perihal Memilih Anda atau Keluarganya

Bertanya soal keluarga pasangan adalah bukti bahwa Anda berusaha mengakrabkan diri dengan keluarganya. Namun, jangan sampai salah melakukannya dan malah membuatnya menjadi tersinggung.

Jangan pernah membuat pilihan semacam, “Pilih pergi denganku atau keluargamu?”. Sebab, pilihan tersebut bukanlah sesuatu yang dapat dijawab untuk menentukan prioritas. 

Setiap manusia dibesarkan oleh ayah dan ibunya, lalu bertumbuh besar bersama keluarganya. Seorang kekasih juga tak dapat dikesampingkan meskipun tidak menemani dari nol. Keduanya sama-sama prioritas, sehingga jangan membuat pilihan tersebut jika Anda memang menghargainya dan keluarganya.

5. Bertanya Masalah Keuangan atau Gaji Jika Belum Menikah

Ketika sudah menikah, terbuka masalah keuangan sangat penting agar mengetahui rincian dana masuk dan keluar dalam rumah tangga. Namun, sebaiknya tak menanyakan soal ini jika Anda dan pasangan belum menikah.

Keuangan adalah topik paling sensitif, apalagi perihal nominal gaji. Seseorang bisa saja merasa rendah diri ketika ditanya soal gajinya. Di sisi lain, mungkin takut juga jika dimanfaatkan atau mungkin ditinggalkan oleh kekasihnya.

Maka dari itu, sebaiknya hindari menanyakan hal tersebut supaya lebih menghargainya, meskipun tak ada niatan untuk memanfaatkan atau meninggalkannya. Hal paling penting adalah selalu mendukung apapun kondisi pasangan Anda agar ia juga lebih semangat dalam pekerjaannya.

6. Bertanya Soal Traumanya di Masa Lalu

Tidak semua orang bisa melupakan trauma yang terjadi di masa lalu. Bahkan akan sangat kesal jika orang lain terus berusaha mengulik luka lama tersebut.

Begitupun dengan pasangan Anda, bisa jadi dirinya memiliki luka lama atau trauma yang sangat susah disembuhkan. Misalnya ketika Anda mengetahui bahwa pasangan Anda merupakan korban broken home yang membuatnya memilih kabur dari rumah, atau mungkin korban kekerasan fisik dari mantan kekasihnya dulu. Sebaiknya tak terus-menerus memintanya bercerita atau menanyakan pertanyaan berulang yang membuka luka lamanya, sebab hal itu akan semakin menyakitinya.

Lebih baik berusahalah menjadi seseorang yang selalu ada dan bisa diandalkan dan membantu menyembuhkan rasa traumanya. Sikap ini akan membuatnya lupa akan rasa kesepian, bahkan luka lamanya karena menyadari bahwa Anda tak akan meninggalkannya.

7. Pertanyaan yang Mengandung Unsur Kode

Bertanya untuk memastikan sesuatu kepada pasangan secara berkali-kali, ada baiknya tak dilakukan. Selain membuatnya kesal, justru sangat menjebak karena dapat mengubah pemikiran dan tekadnya. Contohnya seperti, “Berarti aku nggak boleh kenal dengan teman-temanmu?” atau “Yakin berapa persen kamu mau melakukan itu? Memangnya bisa?”

Pertanyaan tersebut dapat membuatnya bingung karena takut salah menjawab dan memberikan alasan. Meskipun Anda hanya berniat untuk mengujinya, tetapi lebih baik tak dilakukan berulang kali agar tak membuatnya jengkel.

8. Bertanya-tanya Perihal Sifat Buruknya

Setiap manusia pasti memiliki sifat buruk dalam dirinya. Namun, bukan berarti orang lain boleh menyudutkannya terus-terusan akibat sifat buruk seseorang.

Terus memberikan pertanyaan menjebak pasangan seperti, “Bisa nggak sih kamu lebih baik? Nggak berubah sama sekali” justru seolah menyudutkannya. Akibatnya, pasangan Anda bukannya berbenah diri, tetapi enggan melakukannya.

Daripada melakukan hal itu, lebih baik komunikasikan bersama pasangan tanpa menyudutkannya. Beri tahu ia bahwa Anda tak nyaman dengan sifat buruknya tersebut.

9. Terus-menerus Bertanya Soal Hubungan Seksual

Sebagian besar orang pasti merasa risih apabila terus-menerus membahas soal hubungan seksual, terutama pada yang belum menikah. Selain vulgar, kesannya juga seperti melanggar privasi.

Terus-terusan membahas dan memberikan pertanyaan soal hubungan seksual di luar kepentingan edukasi, membuat pasangan Anda menjadi ilfeel. Bahkan dalam sekejap menilai Anda dengan pandangan negatif.

10. Terus Menanyakan Mengapa Tak Kunjung Memberi Kabar Padahal Sedang Online

Satu lagi pertanyaan menjebak pasangan adalah terus-menerus mengulang pertanyaan, seperti “Lagi di mana? Online tapi kok nggak ngabarin” atau “Lagi ngapain, sama siapa, sedang apa? Kenapa pesanku nggak dibalas?”

Setiap orang memiliki kesibukannya sendiri. Tak melulu selama 24 jam ia bersama kekasihnya, apalagi jika belum terikat janji suci di pelaminan. Sebab, pertanyaan tersebut menimbulkan kesan posesif yang membuat pasangan merasa tak bebas melakukan apapun sekaligus merasa tidak dipercaya.

Itulah pertanyaan menjebak pasangan yang sebaiknya tak dilakukan. Jika ingin hubungan tetap harmonis, hindari topik sensitif yang dapat menyinggung perasaannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.