Lompat ke konten

9 Dampak Broken Home Pada Anak, Dari Sisi Psikologis

/ Diverifikasi oleh: Geraeldo Sinaga, S.Psi.

Dampak Broken Home pada Anak dari Sisi Psikologis

Menjaga keharmonisan dalam suatu keluarga merupakan sebuah keharusan, terutama bagi orang tua atau suami-istri dan dilakukan seumur hidup. Keadaan keluarga yang harmonis dan bahagia tentu akan berdampak baik bagi tumbuh kembang serta mental anak.

Namun sebaliknya, apabila terjadi pertengkaran atau perpecahan dalam keluarga dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental anak. Begitulah kira-kira pada anak yang mengalami broken home.

Broken home merupakan kondisi di mana kondisi keluarga mengalami perpecahan atau hilangnya peran salah satu atau kedua orang tua yang seharusnya menjalankannya. Broken home tidak melulu tentang perceraian, bisa juga karena hubungan tidak baik pada orang tua, orang tua yang tidak memberikan kasih sayang, atau bahkan senang meninggalkan rumah sehingga anak menjadi kurang diperhatikan dan tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh.Kenyamanan dalam sebuah keluarga memang menjadi nyawa dan dukungan sendiri bagi anak. Meskipun begitu, kondisi keluarga juga berdampak pada psikologis atau mental anak. Berdasarkan sisi psikologis, berikut ini adalah dampak dari anak yang mengalami broken home:

1. Gangguan Kecemasan atau Anxiety Disorder

Kondisi keluarga broken home membuat anak tidak percaya diri dan malu akan hal itu. Akibatnya, anak menjadi lebih menarik diri dan enggan terbuka dengan siapapun.

Mengalami broken home memberikan rasa trauma mendalam bagi anak dan susah untuk disembuhkan dalam waktu singkat. Tidak hanya depresi, ia juga mengalami dampak negatif berupa gangguan kecemasan atau anxiety disorder.Anxiety disorder ini membuat anak menarik diri dari lingkungan sekitar. Ia menjadi takut berinteraksi dengan orang lain karena khawatir akan dikucilkan dan menjadi bahan gunjingan, meski tidak semua orang akan berlaku seperti itu padanya.

2. Membenci Orang Tuanya

Pertengkaran atau seringnya cekcok pada orang tua membawa dampak psikologis yang tidak baik bagi anaknya. Dampak negatif dari broken home inilah yang membuat anak menjadi benci terhadap orang tuanya.

Anak hanya melihat orang tuanya bertengkar dan seringkali memaki satu sama lain, tanpa mengerti apa penyebabnya. Ia juga menjadi benci orang tuanya karena merasa bahwa mereka tidak pernah terbuka ketika ada masalah.

Lain pikiran anak dan orang tuanya, di mana orang tua merasa bahwa permasalahan rumah tangga seharusnya tidak diketahui oleh anak. Akan tetapi mereka pun melupakan bahwa tidak seharusnya memperlihatkan pertengkarannya di depan si buah hati karena akan membawa dampak psikologis dan trauma berkepanjangan.

Anak menjadi benci pada orang tuanya juga karena ia menganggap semua permasalahan ini terjadi karena salah satu atau kedua orang tuanya.

3. Menjadi Lebih Temperamental dan Kasar

Anak yang mengalami broken home, merasa tidak percaya lagi dengan orang tuanya dan justru menjadikan berbuat masalah sebagai pelarian terbaiknya. Ia menjadi seorang pemberontak dan kasar.Selain itu, anak korban broken home biasanya memiliki temperamen tinggi karena memiliki trauma mendalam dan akhirnya berperilaku kasar juga mudah marah seperti yang dilakukan oleh orang tuanya. Ia merasa bahwa sikap kasar dan tempramen tinggi itu boleh dilakukan karena melihat orang tuanya seperti itu.

4. Menjadi Pribadi yang Posesif

Mengalami broken home membuat anak menjadi kekurangan atau haus kasih sayang, sehingga membuat mereka menjadi pribadi yang posesif. Mereka menjadi seorang yang posesif karena takut kehilangan perhatian dari orang lain.

Dampak negatif lainnya adalah mereka menjadi lebih mudah cemburu karena takut tersaingi oleh orang lain akibat kurangnya mendapat kasih sayang dari orang tuanya.

5. Trauma Menjalin Hubungan dengan Orang Lain

Menjadi sulit percaya dengan orang lain adalah dampak negatif lainnya dari broken home. Anak broken home takut dan selalu merasa bahwa ia dibohongi sehingga ia menjadi trauma dalam menjalin hubungan dengan orang lain.Dampak psikologis dari broken home ini membuat anak mudah frustasi dan berkecil hati setiap bertemu dan menjalin hubungan baru dengan orang lain.  Sehingga, ia merasa bahwa lebih baik ia tidak menjalani hubungan dengan siapapun karena takut berakhir dengan buruk mirip rumahtangga orang tuanya.

6. Merasa Hidupnya Sia-sia

Mereka yang broken home pasti memiliki hati rapuh akibat mengalami trauma di masa lalu. Tak jarang mereka merasa bahwa hidupnya sia-sia.

Anak merasa sia-sia dilahirkan karena akhirnya hidupnya menjadi hancur akibat menjadi korban broken home. Bahkan ia merasa bahwa tak punya masa depan lagi dan dukungan orang yang ia percaya karena hubungan keluarganya tidak harmonis.

Merasa hidupnya sia-sia membuat anak memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidupnya karena merasa tak diharapkan lagi. Kondisi keluarga yang tidak harmonis lah yang membuatnya depresi dan merasa tidak ada harapan lagi untuk melanjutkan hidup.

7. Menyalahkan Dirinya Sendiri

Seringkali anak korban broken home menyalahkan dirinya sendiri karena kondisi keluarganya yang tidak harmonis. Pertengkaran dan masalah rumahtangga kedua orang tuanya, justru membuat ia sangat mudah menyalahkan dirinya sendiri.

Anak korban broken home seringkali merasa bahwa jika ia tak lahir ke dunia tidak akan ada perpecahan pada kedua orang tuanya dan keluarganya akan baik-baik saja tanpanya.

Ciri-ciri lain yang ada pada anak dengan kondisi perpecahan pada keluarganya adalah anak merasa bahwa dirinya tidak berharga. Hal ini lah yang membuat anak depresi, yang berdampak buruk pada kondisi kesehatan mentalnya.

8. Kurang Mendapatkan Kasih Sayang

Perpecahan yang terjadi pada keluarga membuat anak merasa kehilangan kasih sayang karena ia frustasi, seolah-olah rumah bukanlah tempatnya pulang dan memperoleh kehangatan. Melainkan merupakan tempat ia selalu merasa depresi karena tidak ada kasih sayang sama sekali di dalamnya.

Dampak broken home membuat anak kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Rasa kehilangan yang dialami tentu berbeda dan tidak bisa digantikan dengan apapun, bahkan juga tidak bisa dikembalikan lagi seperti sedia kala.

Hal inilah yang membuat korban broken home merasa tidak ada yang bisa memperhatikannya seperti perhatian orang tuanya di masa lalu. Kondisi ini mengganggu psikologis atau mentalnya, menyebabkannya menjadi lebih pemurung dan menutup diri.

9. Permasalahan pada Moral

Tak jarang, anak korban broken home melampiaskan emosinya dengan hal-hal bermasalah dan bahkan dipandang negatif oleh lingkungannya. Secara tidak langsung, perpecahan pada orang tua yang membuatnya menjadi pribadi yang kasar, keras, dan susah diatur.

Anak melakukan hal-hal yang menyimpang dari moral baik karena merasa apa yang dilakukan oleh orang tuanya seperti kekerasan, pertengkaran, dan adu mulut merupakan hal yang wajar. Kemudian seiring berjalannya waktu, hal tersebut diterapkan pada lingkungan pertemanannya.

Korban broken home banyak yang melakukan hal-hal menyimpang karena merasa bahwa hal itu menimbulkan kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Hal ini patut diwaspadai karena dapat menyebabkan anak mengalami gangguan psikologis psikopat, bipolar disorder, temperamental, atau gangguan lainnya yang berpengaruh pada kesehatan mentalnya.

Itulah dampak dan ciri-ciri anak yang merupakan korban broken home. Mereka yang mengalami perpecahan dalam keluarga, butuh perhatian khusus dan kasih sayang untuk membantu menyembuhkannya dari trauma yang mendalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.